أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ
صَدْرَكَ (١)وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (٢)الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (٣)وَرَفَعْنَا
لَكَ ذِكْرَكَ (٤)فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
(٦)فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (٨)
Terjemahnya:
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami
telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? dan Kami
tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu
ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila
kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.[1]
Secara umum, surah al-Insyirah{ mengandung perintah Allah
swt. kepada Muhammad saw. agar senantiasa berjuang dengan ikhlas dan tawakkal.
Allah juga menjelaskan bahwa kesempitan, kesulitan, dan beban berat atas
risalah dakwah merupakan sunnatullah, dan hal itu pasti akan berlalu
kemudian didatangkan kemudahan. Surah ini menceritakan tentang
perincian nikmat-nikmat Allah dan perintah bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut.[2]
Menurut Sayid Qutub, di dalam surah ini terdapat kabar gembira akan
diberikannya kemudahan dan dilepaskannya dari kesulitan dan kesusahan. Juga
terdapat pengarahan yang menunjukkan rahasia kemudahan itu dan tali hubungannya
yang kuat.[3]
1.
Tafsir Ayat Pertama:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (١)
اَلَمْ نَشْرَحْ (Bukankah kami telah melapangkan). Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna taqrir
atau menetapkan yakni, Kami telah melapangkan – لَكَ (untukmu) hai Muhammad – صَدْرَكَ (dadamu?)
dengan kenabian dan lain-lainnya.[4] Kata (نَشْرَحْ) nasyrah{ terambil dari kata (شَرَحَ) syarah{a yang antara lain berarti memperluas,
melapangkan baik secara material maupun immaterial. Ayat ini berbicara tentang
kelapangan dada dalam perngertian immaterial, yang dapat menghasilkan kemampuan menerima dan menemukan kebenaran,
hikmah dan kebijaksanaan, serta kesanggupan menampung bahkan memaafkan
kesalahan dan gangguan-gangguan orang lain.[5]
Dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa Allah
menegingatkan Nabi saw. tentang anugerah keringanan yang diberikan-Nya
sebagaimana terkandung dalam kata (هدى) hada> pada surah ad}-D{uh{a. Lapang dada di sini
lebih menekankan pada dakwah yang dijalani Nabi, seperti yang dipaparkan oleh
Sayyid Quthb “Kami hilangkan beban itu darimu dengan melapangkan dadamu
sehingga terasa ringan dan enteng beban tugas itu (tugas dakwah)”.[6] Dengan berlapang dada,
maka seseorang bisa menjalankan dakwahnya atau kehidupannya dengan baik,
walaupun memikul beban akan terlampaui dengan jiwa yang rela dan hati yang
tetap terjaga.
Huruf (ك) kaf yang
merupakan pengganti nama yang dirangkaikan dengan kata (صدرك) s}adr/dadamu sepintas terlihat dapat berfungsi
sebagai pengganti kata (لك) laka/untukmu. Namun hal tersebut tidak demikian karena kata untukmu
disini berfungsi mengisyaratkan bahwa kelapangan dada yang diperoleh Nabi
Muhammad saw. itu merupakan satu kekhususan bagi beliau. Kekhusuan yang tidak
didapatkan oleh selain beliau baik dalam hal kapasitas maupun substansinya.[7] Sedangkan umat Nabi saw.
akan mendapatkan kelapangan dada dan ketengan jiwa dengan kapasitas yang
berbeda. Allah swt. Berfirman dalam Q.S. al-An-An’a>m: 125
فَمَنْ
يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ
يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ
يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ (١٢٥)
Terjemahnya :
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah
menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.
Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.[8]
Pernah Rasulullah saw. ditanya mengenai ayat ini. Kata
mereka, “Bagaimanakah seseorang bisa menjadi lapang dada ya Rasulullah?” Jawab
Rasul, “Ada suatu cahaya yang terpancarkan ke dalam dada orang itu sehingga
menjadi lapang dan luas untuk menerimanya.” Orang-orang berkata, “Apakah untuk
hal itu ada suatu tanda yang bisa dikenali?” Jawab Rasul, “keinginan untuk
kembali ke negeri yang abadi (akhirat), sikap menjauh dari negeri yang penuh
dengan tipuan (dunia), dan siap-siap menghadapi maut sebelum maut itu tiba.”[9]
Mengingat maut akan menimbulkan ketidaksenangan terhadap
dunia yang sarat dengan tipu daya,[10] dan mendorong untuk
melakukan kebajikan sebagai persiapan diri untuk menghadapi maut. Hal
sebaliknya akan terjadi terhadap orang yang telah rusak fitrahnya karena syirik
dan kotor jiwanya akibat dosa-dosa dan kejahatan, maka dadanya menjadi sangat
sempit yang amat sangat. Kebiasaannya melakukan dosa-dosa membuat lemah untuk
meninggalkan hal tersebut. Sehingga beratlah baginya untuk memenuhi seruan
agama baru (Islam), dan diapun merasa lemah untuk menanggung seruan tersebut.
Perumpamaannya seperti orang yang naik ke lapisan tinggi di angksa, ia akan
merasakan sesak yang hebat dalam bernafas.[11]
Sedangkan orang yang memeluk Islam akan memperoleh
ketenangan. Ketenangan yang dirasakan oleh orang yang mendapatkan petunjuk
untuk memeluk Islam ialah karena ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah
swt. Penyerahan diri ini menghasilkan cahaya yang dapat digunakan oleh
pemiliknya membedakan yang h{aq dari yang bat}il, yang utama dari
yang tidak utama, yang benar dan yang tidak benar.[12] Dengan demikian menjadi
teranglah jalan hidupnya, bagaimana ia melaluinya, dan kemana tujuannya.
2.
Tafsir Ayat Kedua dan Ketiga
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (٢)الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
(٣)
وَوَضَعْنَا (Dan Kami telah menghilangkan) telah melenyapkan
– عَنْكَ وِزْرَكَ (darimu dosamu bebanmu). اَللَّذِيْ اَنْقَضَ
(Yang memberatkan)
yang memayahkan ظَهْرَكَ (punggungmu). [13]
Kedua
ayat ini mengisyaratkan bahwa disana pernah ada kesempitan dalam jiwa
Rasulullah saw. dalam urusan dakwah yang dibebankan kepada beliau, ada
rintangan-rintangan yang sukar dijalannya, dan ada makar dan tipu daya yang
dipasang orang disekelilingnya. Juga mengisyaratkan bahwa dada beliau merasa
berat memikirkan tugas dakwah yang diembannya.[14] Karena itulah Allah swt.
melapangkan dada Nabi saw. atas kebingungan yang disebabkan keingkaran dan
ketakaburan kaumnya dan keengganan mereka dalam mengikuti perkara hak yang
disampaikan Rasulullah saw.[15]
Muhammad Abduh
dalam tafsirnya menjelaskan bahwa beban yang berat itu adalah beban psikologis
yang diakibatkan oleh keadaan umatnya yang diyakini beliau berada dalam jurang
kebinasaan. Namun,
saat itu beliau tidak tahu apa solusi yang tepat untuk memperbaiki keadaan
masyarakatnya. Maka Allah telah menghilangkan
beban itu dari pundak beliau, dengan memberinya bimbingan menuju jalan
keselamatan bagi mereka. Dan Allah senantiasa menurunkan wahyunya setiap kali
Nabi saw. dalam keadaan bingung tentang sesuatu atau hatinya terasa sempit
karena memikirkan sesuatu yang dihadapinya.[16]
Pendapat ini cukup logis mengingat kebiasaan Nabi saw. sebelum
menerima wahyu. Sejarah mencatat, Nabi saw. sering menyendiri di gua Hira untuk
berkontemplasi,[17]
merenung tentang keadaan masyarakatnya yang penuh kezaliman. Beliau berpikir
keras mencari jalan keluar bagaimana menanggulangi keadaan masyarakat Arab yang
penuh dengan kebejatan moral. Maka, di tengah menghadapi beban psikologis yang
begitu berat, Allah swt. mengutus malaikat Jibril untuk memberikan wahyu
kepadanya. Dengan wahyu Allah-lah Nabi saw. mendapatkan pencerahan-pencerahan tentang
bagaimana menanggulangi umat manusia yang diliputi kezaliman dan kebejatan
moral.[18]
3.
Tafsir Ayat Keempat:
وَرَفَعْنَا لَكَ
ذِكْرَكَ (٤)
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (dan kami tinggikan bagimu sebutanmu) yakni, sebutan namamu. Sebagai contohnya atas peninggian
nama Nabi saw. ialah, disebutkannya nama beliau bersama-sama dengan nama Allah
di dalam azan, iqamah, tasyahud, khutbah dan lain sebagainya. [19]
Muhammad Abduh mengatakan bahwa pada kalimat wa
rafa‘na laka z\ikrak, susunan kata “bagimu” sebelum “sebutanmu” tentunya
dimaksudkan untuk lebih menguatkan serta lebih cepat menggembirakan Nabi saw.[20] Kesulitan dan kesempitan
yang dialami Nabi saw. adalah merupakan sunnatullah, yang juga berlaku
pada semua makhluk-Nya. Namun karena ketabahan dan kesabaran beliau maka Allah
swt. menganugerahkan pelapangan dada, peringanan beban, dan peninggian sebutan
nama Nabi saw.
Kata (رَفَعَ) rafa‘a berarti
mengangkat atau meninggikan, baik objeknya bersifat material maupun immaterial.
Kata (ذِكْرَ) z\ikr/z\ikir menurut pengertian bahasa adalah
menghadirkan sesuatu di dalam benak, baik diucapkan dengan lisan maupun tidak,
dan baik ia bertujuan untuk mengingat kembali apa yang telah dilupakan maupun
untuk lebih memantapkan sesuatu yang tetap dalam ingatan.[21] Dalam al-Quran, kata z\ikr dalam berbagai bentuknya pada umumnya
dinisbahkan kepada Allah swt. Ada pula yang berdiri sendiri dalam arti wahyu
Allah, atau al-Qur’an.
Penggunaan kata (رَفَعْنَا) rafa‘na> yang merupakan pengganti nama
berbentuk jamak (Kami) sebagai pertanda adanya pihak-pihak lain selain Allah
swt. yang ikut serta dalam peninggian nama Nabi saw. pihak-pihak
tersebut antara lain adalah ilmuwan-ilmuawan yang beraneka ragam disiplin ilmu
serta kepercayaan agamanya.[22]
4.
Tafsir Ayat Kelima dan Keenam
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥)إِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu) atau kesukaran itu – يُسْرًا
(ada kelapangan) yakni kemudahan. اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
(Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kelapangan). Nabi saw. banyak sekali mengalami kesulitan dan hambatan dari orang-orang
kafir, kemudian beliau mendapatkan kelapangan dan kemudahan yaitu, setelah
beliau mengalami kemenangan atas mereka. [23]
Ayat ini diawali dengan kata fa untuk menunjukkan
adanya kaitan antara kedua keadaan tersebut (antara timbulnya kesulitan dan
datangnya kemudahan). Digunakan kata sandang ال
sebelum عسر memberi makna umum
(yakni semua kesulitan). Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah kesulitan-kesulitan
yang biasa dijumpai oleh tiap-tiap pribadi dan lingkungannya. Misalnya,
kesulitan yang berupa kemiskinan, kelemahan, pengkhianatan kawan, keperkasaan
musuh, langkanya sarana yang diperlukan, dan lain sebagainya yang biasa
dialami.[24]
Melihat kenyataan bahwa kejayaan umat Islam hanya tinggal
memiliki julukan dan nama-nama saja,[25] seharusnya ayat ini
dijadikan pelajaran bagi umat ini dalam menghadapi problematika kehidupan masa
kini yaitu dengan melakukan perubahan dari keadaan yang memilukan menuju
kegemilangan Islam kembali. Begitupun juga dalam hal mengatur urusan umat,
seharusnya menjadikan Islam sebagai aturan hidup. Nabi Muhammad saw. merintis
perubahan dengan menjadikan Islam sebagai subjek perubahan bukan menjadi objek
perubahan.
Al-Maragi menegaskan ketika Nabi dihimpit oleh kesedihan
sebab ulah kaumnya, semangat beliau tidak kendor karenanya dan tekad beliau
tidak goyah, akan tetapi Nabi tetap sabar dan tawakkal kepada Allah. Kemudian
Allah memperkuat beliau dengan hadirnya orang-orang yang penuh rasa cinta
kepada beliau serta memiliki semangat yang berkobar dalam membela Nabi saw. dan
membela agama ini. Mereka berpendapat bahwa mereka tidak akan bisa hidup aman
kecuali dengan menghancurkan tiang-tiang kemusyrikan keberhalaan. [26]
Sesungguhnya tidak ada kesulitan yang tidak teratasi,
jika jiwa kita bersemangat untuk keluar dari kesulitan dan mencari jalan
pemecahan menggunakan akal pikiran yang jitu dengan bertawakkal sepenuhnya
kepada Allah. Inilah kunci keberhasilan, meskipun berbagai godaan, hambatan dan
rintangan datang silih berganti. Dalam ayat ini terkandung pelajaran bahwa
sesungguhnya Allah swt. akan merubah keadaannya dari kefakiran menjadi kaya,
dari kekurangan teman menjadi banyak teman dari permusuhan menjadi kecintaan dan
berbagai keadaan lainnya.
Mengingat masalah ini mudah menimbulkan keraguan, maka
pernyataan Allah swt. dikuatkan dengan اِنَّ atau
sesungguhnya. Lalu mengingat
keraguan itu mungkin akan bertambah , berkaitan dengan beberapa kesulitan yang
dialami, bahkan makin bertambah lebih gawat sehingga terjadi pengingkaran, maka
Allah swt. mengulangi lagi pernyataan tersebut dengan menggunakan kalimat yang
sama, اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
sesungguhnya
bersama dengan kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sudah barang tentu, makna yang tercakup dalam pernyataan
yang kedua ini, lebih luas daripada yang pertama.[27]
Ibnu Katsir
menegaskan, bahwa kesulitan itu dapat diketahui pada dua keadaan, di mana
kalimatnya dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan kemudahan (al-yusr
) dalam bentuk nakirah (tidak ada ketentuannya) sehingga bilangannya
bertambah banyak. [28]
Hal ini menunjukkan bahwa kedua ayat tersebut mengandung makna “setiap satu
kesulitan akan dibarengi dengan dua kemudahan atau banyak kemudahan.
Sementara ulama memahami kata ma’a dalam arti
sesudah dengan merujuk antara lain firman Allah sawt. yang serupa maknanya dan
menggunakan kata (بعد) ba'd (sesudah),
yaitu: “Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan” (Q.S. at}-T}ala>q/ 65: 7). Namun demikian,
tidak pula keliru mereka yang memahami kata itu dalam arti awalnya yakni bersama,
dan ketika itu ayat 5 dan 6 menjelaskan bahwa betapapun beratnya kesulitan yang
dihadapi, pasti dalam celah-celah itu terdapat kemudahan-kemudahan. Menurut
az-Zamaksyari sebagaimana yang dikutip M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa
penggunaan kata bersama walaupun maksudnya sesudah adalah untuk menggambarkan
betapa dekat dan singkatnya waktu antara kehadiran kemudahan, dengan kesulitan
yang sedang dialami.[29]
5.
Tafsir Ayat Ketujuh dan kedelapan:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
(٨)
فَاِذَ فَرَغْتَ (Maka apabilakamu telah selesai) dari salat فَا نْصَبْ (bersungguh-sungguhlah kamu) di dalam berdoa. وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap) atau meminta
dengan merendahkan diri.[30]
Setiap kesulitan selalu disusul atau dibarengi oleh kemudahan, demikian pesan ayat-ayat
sebelumnya. Kalau demikian, yang dituntut hanyalah kesuungguhan bekerja dibarengi
dengan harapan serta optimisme akan kehadiran bantuan Ilahi. Hal inilah yang
dipesankan oleh ayat-ayat diatas dengan menyatakan: Maka apabila engkau
telah selesai yakni sedang berada di
dalam keluangan setelah tadinya engkau sibuk, maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh hingga
engkau letih atau hingga tegak dan nyata suatu persoalan baru dan hanya
kepada Tuhanmu saja – tidak ada siapa pun selain-Nya – hendaknya engkau
berharap dan berkeinginan penuh guna
memperoleh bantuan-Nya dalam menghadapi setiap kesulitan serta melakukan suatu
aktivitas.[31]
Kata (فرغت) faraghta terambil
dari kata (فرغ) faragha yang berarti kosong setelah sebelumnya penuh baik
secara material maupun immaterial. Seseorang yang telah memenuhi waktunya
dengan pekerjaan, kemudian ia menyelesaikan pekerjaan tersebut, maka jarak
waktu antara selesainya pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan selanjutnya
dinamai (فراغ) fara>gh.
Kata
(فا نصب) fa-ns}ab terdiri dari rangkaian huruf (ف) fa’ yang
biasa diterjemahkan maka dan (إنصب) ins}ab yang merupakan bentuk perintah dari kata (نصب) nas}aba.
Kata nas}aba ini pada mulanya menegakkan
sesuatu sehingga nyata dan mantap. Upaya menegakkan ini biasanya dilakukan
dengan sungguh-sungguh sehingga dapat mengakibatkan keletihan, dari sinilah
kata itu digunakan juga dalam arti letih. [32]
Menurut ibnu katsir, maksud dari ayat ke-7 adalah jika
engkau (Muhammad) telah selesai mengurus berbagai kepentingan dunia dan semua
kesibukannya serta telah memutus semua jaringannya, maka bersungguh-sungguhlah
untuk menjalankan ibadah serta melangkahlah kepadanya dengan penuh semangat,
dengan hati yang kosong lagi tulus, serta niat karena Allah. ‘Ali bin Abi
T{alhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Dan jika engkau telah
selesai, maka bersungguh-sungguhnlah, yakni dalam berdoa.[33]
M. Quraish Shihab
cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan atau persoalan yang
dimaksud, dengan alasan “apabila objek suatu kata tidak disebutkan, maka
objeknya dapat bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang dapat dicakup
oleh kata tersebut.” Atas dasar itu kita dapat memahami bahwa ayat di atas
memerintahkan untuk melakukan kesungguhan atau menegakkan apa saja yang sedang
dihadapi, tetapi tentunya dengan syarat dibenarkan oleh Allah swt., sebagaimana
disyaratkan oleh akhir ayat surah ini.[34]
Kata (فارغب) farghab
terambil dari kata (رغب) raghiiba.
Ia digunakan untuk menggambarkan kecenderungan hati yang sangat mendalam
kepada sesuatu, baik untuk membenci maupun untuk menyukai. Apabila kata
tersebut digandengkan dengan (إلى) ila> maka ia diartikan sangat ingin, suka/cinta.
Kata (إلى) ila> pada ayat di atas mendahulukan kata (فارغب) farghab. Ini memberi penekanan khusus menyangkut
perintah berharap kepada Allah.[35]
Ayat kedelapan menggunakan kata penghubung (و) wauw yang diterjemahkan dan. Ini berarti harus ada hubungan antara
kesungguhan berusaha dengan harapan serta kecenderungan hati kepada Allah swt. Ini dapat dinilai
sejalan dengan ungkapan “bekerja sambil berdoa”,” walau tentunya kedua ayat
tersebut mengandung makna yang jauh lebih dalam dari ungkapan ini.[36]
[1]Kementrian Agama RI, Al-Qur’an
Tajwid dan Terjemahnya (Bandung: PT Sygma Examida Arkanleema , 2010), h.
596.
[2]Ahmad
Mustafa al-Maragi,
Tafsir al-Maragi, Juz 30, diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar dkk. dengan
judul “Tafsir al-Maragi”, (semarang: CV. Toha Putra, 1993), h. 331.
[3]Syahid
Sayyid Quthb, Tafsir Fi> Z{ilal al-Qur’an, diterjemahkan oleh As’ad
Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarahil dengan judul “Di bawah Naungan al-Qur’an,
jilid. 24, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 168
[4]Imam
Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, op.cit., h. 2747.
[5]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 354.
[6]Syahid
Sayyid Quthb, op.cit., h. 169.
[7]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 355.
[8]Kementrian
Agama RI, op.cit., h. 144.
[10]Al-Ghaza>l,
Metode Menjemput Maut, (Cet. VIII; Bandung: Mizan, 2001), h. 27.
Diterjemahkan oleh Ahsin Mohammad, dari “Remembrance of Death and the
Afterlife” edisi inggris dengan
pendahuluan dan catatan oleh T.J. Winter
[12]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 354.
[13]Imam
Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, lop.cit
[14]Syahid
Sayyid Quthb, op.cit., h. 169.
[16]Muhammad Abduh, Tafsir
Al-Qur’an Al-Karim (Juz ‘Amma), diterjemahkan oleh Muhammad Bagir: Tafsir
Juz ‘Amma (Bandung: Mizan, 1999), h. 232
[17]Lihat MB.
Rahimsyah. AR, Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul, (Surabaya: CV Cahaya
Agency), h. 122.
[18]Agil Ibhnu,
“Surah al-Insyirah{ arti dan tafsir,” Blog Agil Ibhnu. http://agilibhnu.blogspot.com (11
Januari 2014)
[19]Imam
Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, op.cit., h. 2748.
[21]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 358.
[23]Imam
Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, lop.cit
[28]Ibnu
Katsir, op.cit., h. 617.
[29]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 362.
[30]Imam
Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuth, op.cit., h. 2748
[31]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 364.
[33]Ibnu
Katsir, op.cit., h. 618
[34]M. Quraish
Shihab, op.cit., h. 365
Tidak ada komentar:
Posting Komentar